Selasa, 05 April 2016

Pengertian Literatur dan Jenis Literatur



Menurut ALA Glosary of Library and Information Science (1983), Literatur adalah bahan bacaan yang digunakan dalam berbagai aktivitas baik secara intelektual maupun rekreasi.

Literatur dapat dikelompokkan menurut beberapa kategori, diantaranya :
1.   Jenis literatur menurut lokasi penempatan koleksi dapat dibedakan menjadi 2, yaitu 

a)    Koleksi Umum
       Koleksi umum terdiri atas buku untuk tingkat pembaca dewasa  yang telah diolah dan ditempatkan di rak terbuka. Sebagian besar koleksi umum merupakan monograf dan judul dalam seri. Terbitan berseri yang bukan majalah dapat dimasukkan di sini menjadi koleksi yang dapat dipinjam.

b)    Koleksi referensi
       Koleksi referensi atau koleksi rujukan, menghimpun informasi yang secara langsung dapat menjawab pertanyaan. Misalnya, kamus, direktori, ensiklopedi, buku pedoman, buku pegangan, dll. Selain itu koleksi referensi juga menghimpun informasi yang merujuk kepada sumber informasi lain atau hanya menunjukkan lokasi di mana informasi yang dicari dapat ditemukan. Misalnya, katalog, bibliografi, dan lain - lain.

2.    Jenis literatur menurut  tingkat ketajaman analisisnya dapat dibagi 3                  golongan, yaitu

a)    Literatur primer
     Literatur primer adalah karya tulisan asli yang memuat kajian mengenai sebuat teori baru, atau penjelasan suatu gagasan dalam berbagai bidang. Literatur primer bisa berupa artikel majalah ilmiah, laporan penelitian, disertasi, paten, standard, makalah seminar dan lain-lain. 

b)    Literatur sekunder
    Literatur sekunder merupakan literatur yang berisi informasi mengenai literatur primer. Literatur sekunder menawarkan literatur primer dengan cara meringkas atau menbuat indeks, jadi literatur sekunder tidak berisi pengetahuan baru, melainkan hanya mengulang dan menata pengetahuan yang sudah ada. Literatur ini termasuk dalam jenis koleksi referensi seperti kamus, ensiklopedi, thesaurus, direktori, majalah abstrak, majalah indeks, bibliografi, tinjauan literatur, termasuk juga pangkalan data dan lain-lain.

c)    Literatur tersier
      Literatur tersier adalah literatur yang memuat informasi yang merupakan petunjuk untuk memperoleh literatur sekunder. Yang termasuk literatur tersier adalah bibliografi dari bibliografi, direktori dari direktori dan lain - lain.

Sulistyo-Basuki (1996) membedakan literatur (dokumen) berdasarkan sifatnya menjadi 3, yaitu

1.    Dokumen tekstual
      Dokumen tekstual menyajikan isi lengkap dalam bentuk teks tertulis untuk kemudian dibaca oleh pemakai. Dokumen tekstual meliputi buku, majalah, kumpulan statistik, kartu katalog, dokumen administratif, dokumen perundang-undangan, paten, dan lain - lain.

2.    Dokumen nontekstual
     Dokumen nontekstual juga memuat teks tertulis, namun bagian utamanya disajikan dalam bentuk bukan tertulis atau bentuk lain. Bentuk lain yang dimaksud misalnya bentuk gambar, suara dengan tujuan untuk dilihat, didengar, ataupun dimainkan oleh pemakai. Dokumen nontekstual  dapat dibagi menjadi :
a.    Dokumen ikonik, misalnya peta, atlas, lukisan, foto, dan lain - lain.
b.    Dokumen suara berupa rekaman suara, radio, kaset, dan lain - lain.
c.    Dokumen audio visual atau dokumen pandang dengar, misalnya televisi,              film, dan video.
d.    Dokumen yang bersifat material, artinya jelas dapat dipegang, diraba, dan          dilihat, misalnya bola dunia, karya artistik, monumen, dan lain - lain.

3.    Dokumen campuran
  Merupakan dokumen yang menggabungkan dokumen tekstual dan nontekstual menjadi satu dalam membahas sebuah subjek, misalnya buku ajar bahasa Inggris yang dilengkapi dengan kaset.
Jenis literatur menurut isinya, antara lain dikelompokkan sesuai Klasifikasi Desimal Dewey (Dewy Decimal Classification), yaitu
000-099    Karya umum
100-199    Filsafat
200-299    Agama
300-399    Ilmu-ilmu Sosial
400-499    Bahasa
500-599    Ilmu Murni
600-699    Teknologi (Ilmu Terapan)
700-799    Seni, olah raga, hiburan, rekreasi, hobi
800-899    Sastra
900-999    Geografi, kisah perjalanan, sejarah

Literatur menurut bentuknya dibagi 2, yaitu
1.    Literatur berbentuk buku
2.    Literatur berbentuk non buku

Literatur berformat non buku adalah sebagai berikut:
1.    Piringan hitam
    Piringan hitam biasanya pada umumnya memuat rekaman musik. Akan tetapi piringan hitam dapat pula memuat hal-hal seperti pelajaran, cerita, dan sebagainya. Piringan hitam banyak digunakan sebagai bahan perpustakaan bagi tuna netra.
2.   Pita rekaman
      Pita rekaman dapat digunakan untuk merekam. Pita rekaman sudah jarang digunakan sejak pita  kaset yang lebih praktis umum digunakan orang.
3.    Kaset
     Kaset adalah bentuk pita rekaman yang praktis, bentuknya kecil sehingga mudah dibawa. Kaset dapat digunakan untuk merekam musik, pelajaran, cerita dan lain - lain. 
4.    Laser Disk
       Laser disk digunakan untuk merekam suara maupun gambar.
5.    Film
       Film termasuk bahan perpustakaan yang mahal, baik harga maupun biaya pemeliharaannya.
6.    Filmstrip
7.    Slide
8.   Mikrofilm
      Mikrofilm dapat merekam sampai sebesar 1 halaman surat kabar. Setiap rol panjangnya 100 kaki dapat memuat 600 frame. Biasanya digunakan untuk merekam surat kabar, buku ataupun naskah kuno.
9.    Mikrofish
    Mikrofis sistemnya sama dengan mikrofilm, akan tetapi bahan mikrofis berupa lembaran sebesar kartu pos. Digunakan untuk merekam buku maupun dokumen. Setiap lembar mikrofis dapat memuat 60 – 300 halaman.
10.   Video
        Video banyak digunakan karena sifatnya sama dengan film, akan tetapi harganya jauh lebih murah.
11.    Lukisan
         Lukisan dapat pula dijadikan sebagai bahan perpustakaan.
12.   CD (Compact Disk)
        •   CD
        •   VCD
        •   DVD
        •   CD-ROM
13.    Internet dan lain - lain

Buku memiliki bagian-bagian fisik dan memuat keterangan-keterangan mengenai buku itu, misalnya tahun terbit, hak cipta, dan lain – lain. Menurut A.S. Nasution (1983)  yang umum ada pada suatu buku adalah sebagai berikut:

1.    Sampul/kulit buku (muka, belakang, punggung)
       •    Sampul tebal
       •    Jaket (sampul pelindung)
2.    Halaman pelindung (lembar penguat)
3.    Blok buku yang terdiri atas :
       •    Perwajahan awal (preliminary)
       •    Bagian/perwajahan teks
       •    Perwajahan akhir (postliminary)

Perwajahan awal terdiri atas:
1.    Halaman setengah judul (half title page)
2.    Halaman judul Perancis
3.    Halaman-halaman untuk
       •    Judul, hak cipta
       •    Ucapan terima kasih
       •    Dedikasi
       •    Daftar isi
       •    Daftar peta dan ilustrasi

Perwajahan teks terdiri atas:
1.    Judul bab
2.    Sub-sub judul bab, dan sebagainya
3.    Teks
4.    Keterangan gambar
5.    Catatan (note)
6.    Foto/ilustrasi
7.    Grafik, daftar

Perwajahan akhir terdiri atas lampiran-lampiran sebagai berikut:
1.    Bibliografi
2.    Appendiks
3.    Indeks
4.    Daftar istilah / glossary berikut artinya 

Kamis, 17 Maret 2016

Sinopsis dan Resensi Novel Ayat-Ayat Cinta 2, Habiburrahman El Shirazy


SINOPSIS NOVEL AYAT AYAT CINTA 2
SINOPSIS NOVEL AYAT AYAT CINTA 2
Wah ada kabar yang sangat menggembirakan buat kalian yang suka sama novel novel bagus dan bestseller. Novel AYAT AYAT CINTA 2 telah terbit. Setelah kemarin sempat mengeluarkan novel beraliran baru – novel sejarah – sekarang kang abik meneruskan cerita dari novel ayat-ayat cinta yang fenomenal itu. Udah nonton kan pastinya film ayat-ayat cinta yang diadaptasi dari novel ayat ayat cinta ? Silahkan buka youtube aja yang belum nonton. hehe
Oke.. langsung aja, berikut sinopsis novel ayat ayat cinta 2 karya habiburrahman el shirazy..
===================================================
Fahri, yang kini tinggal di Edinburgh dan bahkan menjadi dosen di University of Edinburgh, terpaksa menjalani ke hidupan sehari-harinya sendirian. Bersama dengan Paman Hulusi, asisten rumah tangganya yang berdarahTurki, ia menruskan kehidupannya tanpa Aisha.
Terkadang Fahri masih saja menangis saat mengingat kenangan-kenangannya bersama Aisha. Kenyataan bahwa istri yang sangat dicintainya itu kini menghilang entah kemana, membuatnya nelangsa dan hampir putus asa. Maka ia menghabiskan hari-harinya dengan menenggelamkan diri dalam kesibukan pekerjaan, penelitian, mengajar, dan bisnis yang dulu dikelola berdua bersama Aisha.
Aisha menghilang dalam sebuah perjalanan ke Palestina bersama teman wanitanya saat ingin membuat cerita dan reportase tentang kehidupan di sana. Teman Aisha ditemukan dalam keadaan sudah kehilangan nyawa dan kondisi tubuh yang mengenaskan dan sangat mungkin kondisi Aisha juga sama meski tubuhnya belum ditemukan saat ini.
Sudah lebih dari dua tahun Fahri berduka dan tenggelam dalam usaha pencarian istri yang sanagat dicintainya itu. Ia pun pindahke Edinburgh karena itulah kota yang sangat disukai Aisha di dataran Inggris. Dengan menyibukkan dirinya, ia berusaha menyingkirkan rasa sedihnya sekaligus memperbaiki citra Islam dan muslim di negeri dunia pertama itu. Ia berbuat baik pada tetangganya, menyebarkan ilmu agama pada berbagai pihak, dan membantu orang-orang yang butuh bantuannya tanpa memandang bulu.
Berbagai kegiatan menyibukkan dirinya, hingga sebuah pertanyaan mengusik datang dari berbagai pihak. Akankah ia membujang seumur hidup setelah ditinggal Aisha? Akankah ia bertemu dengan istrinya itu sekali lagi?
==============================================
Berikut RESENSI NOVEL AYAT AYAT CINTA 2 Karya Habiburrahman El Shirazy yang diresensi oleh http://andhikaramdhan.blogspot.co.id
resensi atas novel karya terbaru dari seorang novelis Habiburrahman el Shirazy ini saya tulis setelah menuntaskan membacanya dalam waktu semalam saja karena rasa penasaran yang begitu besar. Karya ini merupakan kelanjutan kisah dari novel Ayat Ayat Cinta yang terbit sekitar 10 tahun yang lalu. Ada kerinduan pembaca atas kehadiran novel ini. Bukan hanya novel agama, namun ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik oleh para pembaca ketika mereka membacanya tanpa merasa digurui oleh sang penulis. Begitupun ternyata dengan kelanjutan kisahnya di novel Ayat Ayat Cinta bagian 2 ini.
Sebuah setting tempat di sebuah universitas ternama Edinburgh University menjadi halaman pembuka. Bangunan kuno, klasik, namun tampak begitu berkelas membuka kisah. Cerita berlanjut ketika ternyata sang tokoh utama, Fahri Abdullah kini bukan lagi menjadi seorang mahasiswa. Ia sudah menjadi dosen. Dan hari itu ia bertugas untuk menggantikan profesor Charlotte, salah satu dosen senior di universitas tersebut untuk memberikan kuliah mengenai philologi.
Fahri ternyata setelah dinyatakan tidak bersalah pada kasus Noura saat mereka di Mesir dulu kemudian menuntaskan S2 dan S3. Namun sayang, kisah asmaranya bersama sang istri tercinta harus berakhir. Aisha pergi bersama salah satu teman wanitanya yang berprofesi seorang jurnalis ke Palestina. Ia ingin mempelajari dan melihat langsung bagaimana kehidupan masyarakat disana. Fahri tidak bisa menemaninya karena ada ujian Doktoral. Setelah kepergian Aisha hari itu, ia seperti hilang di telan bumi. Tak ada kabar berita, hanya ada satu kabar buruk tentang teman wanita yang pergi dengannya ditemukan tewas mengenaskan di negeri Palestina oleh kekejaman Israel.
Meski sedih namun Fahri masih berharap Aisha masih ada dan akan kembali Alloh pertemukan dengannya.
Sepeninggal istrinya, Fahri menyibukkan diri dengan segala aktifitasnya. Dia pindah ke Edinburgh salah satu kota di kawasan Britania raya, sebuah kota yang sangat diidamkan oleh istri tercintanya. Disana dia mengajar, mengisi berbagai kajian, hingga menjalankan bisnis di berbagai bidang. Ini salah satu nilai tambah novel Ayat Ayat Cinta 2, bukan hanya berkisah tentang cinta namun entrepreneurship juga hadir di seri kedua novel ini. Fahri menjalankan bisnis Aisha di Jerman hingga juga membuka bisnis baru merambah ke bisnis butik dan kuliner.
Fahri mencoba menenggelamkan dirinya dalam kesibukkan agar tidak terlarut dalam kesedihan ditinggal Aisha. Dalam perjalanan kisahnya Fahri dipertemukan dengan beberapa orang. Ia harus menjalin cerita dengan sebuah keluarga yang memiliki anak berbakat bernama Keira dan Jason. Ia juga menjadi seorang tetangga yang baik bagi seorang nenek bernama menek Catarina.
Aktifitas ukhrawi Fahri tetap berlanjut. Kecintaan Fahri akan Alloh dan Rasulnya tercermin dari kegiatan sehari-harinya. Ia masih tetap menjalankan tilawah dan muroja’ah alQuran sebagai dzikir tiap harinya, dia juga diminta menjadi imam masjid di salah satu masjid terkenal di kawasan Britania raya.
Sampai suatu hari Fahri dipertemukan dengan seorang wanita muslim dengan wajah rusak. Fahri menolongnya dan demi keamanan wanita tersebut Fahri memintanya untuk tinggal di rumahnya selama mengurusi status kependudukan wanita tersebut. Wanita itu bernama Sabina. Namun belakangan hari Sabina begitu menunjukkan banyak kesamaan dengan Aisha. Dari mulai masakan, kepribadian, keilmuan hingga perhatiannya. Namun terlalu sulit untuk Fahri mempercayai kalo itu adalah Aisha, bukan hanya fisik yang berbeda, namun pita suara Sabina juga jauh berbeda dengan istrinya.
Dalam beberapa kesempatan Fahri dipertemukan dengan suasana akademik berupa debat terbuka. Dari mulai pembahasan bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan hingga pembahasan mengenai teori bahwa semua agama sama. Fahri disana hadir untuk tidak diam, namun dengan keilmuannya ia menjabarkan bagaimana sebenarnya Islam memandang hal tersebut. Kefasihannya menjabarkan Islam membuatnya semakin terkenal hingga iapun ditawari untuk menjadi dosen di Oxford University.
Kedekatan Fahri dengan keluarga Aisha telah mendorong kisah untuk Fahri akhirnya menikahi sepupu Aisha bernama Hulya. Meski awalnya sulit bagi Fahri namun akhirnya Fahri mampu menerima kehadiran Hulya dalam kehidupannya hingga ia memiliki seorang anak bernama Umar al Faruq.
Sebuah kejadian yang tidak mudah diduga dan diterka oleh pembaca terjadi di menjelang akhir novel Ayat Ayat Cinta 2 ini. Ini kehebatan seorang Habiburahman el Shirazy membawa pembacanya seakan masuk dan terus menerka apa yang akan terjadi pada masing-masing tokoh di novel ini. Kejadian tersebut merubah kehidupan Fahri dan akhirnya mempertemukannya kembali dengan istri tercintanya Aisha.
Lalu bagaimana dengan Hulya? Apakah Habiburrahman el Shirazy akan kembali membawa unsur poligami di kisah Novel Ayat Ayat Cinta 2 ini? Anda akan tercengang ketika membacanya sendiri.
Secara umum saya serasa menemukan kembali ruh karya sastra yang bernilai tinggi di novel ini. Bukan hanya rangkaian kata-kata yang ditata indah. Namun juga satu demi satu ajaran Islam kembali Kang Abik sapaan Habiburrahman el Shirazy hadirkan untuk menunjukkan bahwa Islam rahmatan lil’alamiin, Islam adalah rahmat bagi sekalian alam.
Namun jika anda perhatikan, ada yang berubah di novel Ayat Ayat Cinta 2 ini. Jika di seri pertama dulu Habiburrahman el Shirazy menempatkan Fahri sebagai tokoh utama dengan kata ganti orang pertama dengan menggunakan kata “aku”.  Yang membuat pembaca seolah menjadi seorang Fahri. Namun di bagian kedua ini kata ganti orang ketiga dengan sebutan nama muncul menggambarkan masing-masing sang tokoh.
Semoga sebuah tulisan kecil mengenai resensi novel Ayat Ayat Cinta 2 ini menjadi pelepas dahaga bagi para pembaca. Apalagi bagi anda yang sangat ingin memilikinya namun belum terlaksana. Atau bahkan bagi mereka yang memandang sebelah mata akan Islam, semoga ini menjadikan pembuka mata hati akan kebenaran Islam. Terima kasih sekali lagi Habiburrahman el Shiray / kang Abik / @h_elshiray, semoga novel ini menjadikan hikmah dan pelajaran bagi kami para penikmat karya sastra dan bagi semua orang.

Senin, 07 September 2015

KATALOGISASI - CATALOGING

                                                                                 



      Salah satu tugas, pekerjaan, bagian atau unit diperpustakaan yang bertugas dan bertanggung jawab terhadap pembuatan, penyusunan dan keawetan katalog/daftar dalam bentuk manual atau elektronik/OPAC. Fungsi katalogisasi antara lain; mencatat koleksi milik suatu perpustakaan/pusat informasi, mempercepat temu kembali, dan mengembangkan standar bibliografi internasional. Dalam pembuatan deskripsi katalogisasi terdapat tatacara penggunaan tanda baca maupun penggunaan huruf-huruf tertentu.
Dalam penggunaan penggunaan huruf besar diatur pada;
1) Permulaan kalimat
2) setelah titik
3) huruf pertama nama orang
4) huruf pertama nama tempat
5) huruf pertama peristiwa dalam sejarah
Kemudian penggunaan tanda baca diatur pada;
1) tanda titik disertai strip (--) digunakan untuk memisahkan bagian-bagian dari deskripsi
2) tanda titik (.) digunakan untuk memisahkan bagian-bagian dari deskripsi
3) tanda titik koma (;) untuk memisahkan judul utama dan judul tambahan, dan mendahului keterangan           ilustrasi pada kolasi dan untuk mendahului unsure ukuran tinggi buku dan unsure nomor keterangan seri
4) tanda koma (,) digunakan untuk memisahkan halaman angka Arab
5) tanda sama dengan (=) digunakan untuk memisahkan judul utama dengan judul alternatif
Kartu katalog perpustakaan dapat disusun alfabetis judul, pengarang, maupun subjek. Kemudian kartu katalog kelas disusun berdasarkan nomor klasifikasi. Hal ini apabila perpustakaan masih menggunakan sistem katalognya secara manual.
      Sejarah katalogisasi dimulai pada tahun 1841 M. Antonio Panizi seorang Itali menulis buku tentang katalogisasi berjudul Rules for Compiling of the Catalogue dan disimpan di British Museum Inggris. Buku ini berisi 91 peraturan tentang katalogisasi. Pada tahun 1903 Charles Ammi Cutter seorang Amerika Serikat menyusun buku katalogisasi berjudul of Dictionary Catalog dan dialah yang menemukan sistem katalog kamus/dictionary catalog. Di London lahir organisasi profesi pustakawan bernama Library association/LA dan lahir organisasi serupa bernama American Library Association/ALA. Pada tahun 1908 kedua organisasi itu sepakat mengadakan kerjasama dalam bidang katalogisasi yang kesepakatan itu disebut Joint Coce 1908. Pada tahun 1920 timbul ide untuk meninjau kembali atas kesepakan tersebut dan baru dapat direalisir pada tahun 1930 dan ketika pecah Perang Dunia II, peninjauan kembali itu dihentikan. Akan tetapi disatu sisi, pustakawan Amerika yang tergabung dalam American Library Association/ALA mengadakan peninjauan kembali terhadap ALA cataloging Rules 1908 kemudian terbit edisi II pada tahun 1941. Pada tahun 1949 peraturan katalogisasi ini ditinjau kembali dan terbitlah buku ALA Cataloging Rules for Author and Titles Entries 1949 yang memuat penentuan tajuk entri. Kemudian pustakawan Amerika mempercayakan Seymur Lubetsky untuk melakukan penelitian dibidang katalogisasi. Ia juga sebagai konsultan pada Bibliographic and Cataloging Policy Library of Congress. Hasil penelitian ini pada tahun 1953 diterbitkan dengan judul Cataloging Rules and Principles. Hasil penelitian ini mendorong International Federationn Library Association/IFLA untuk menyelenggarakan Konferensi Internasional tentang prinsip-prinsip katalogisasi/International Conference on Cataloging Principles di Paris diikuti 3 negara dan 12 organisasi. Pertemuan ini melahirkan kesepakatan internasional dikenal dengan Statement of Principles atau Paris Principles. Kemudian pada tahun 1967 American Library Association/ALA, Library Association/LA, dan canadian Library Association sepakat untuk menerbitkan peraturan katalogisasi internasional yang disebut The Anglo-American Cataloging Rules yang pada prinsipnya berpegang pada Statement of Paris dan terbit dalam versi Amerika Utara/North American Texts dan versi inggris/british Text. Peraturan-peraturan dalam AACR ini dikelompokkan menjadi tiga bagian yakni bagian I berisi Penentuan Tajuk Entri yang menguraikan tentang cara pemilihan dan penentuan tajuk/ choice of entry dan bagian ini berisi uraian katalogisasi untuk bahan non buku. Pada 1969 terjadi pertemuan katalogisasi/Meeting of Cataloging Experts yang menghasilkan pembentukan kelompok kerja internasional yang ditugasi untuk membentuk tata susunan dan  isi buku deskripsi monograf. Penyusunan ini dimaksudkan agar:
1) informasi bibliografi yang dikeluarkan suatu negara atau direkam dalam satu bahasa mudah dikenal oleh  
    negara lain atau oleh orang yang menggunakan bahasa lain.
2) informasi yang dikeluarkan suatu negara dapat disusun dengan informasi yang dikeluarkan oleh negara lain.
3) informasi bibliografi dicatat dalam bentuk yang digunakan oleh mesin.
 Kemudian pada tahun 1971 panitia tersebut membuat rumusan deskripsi monograf lalu dibukukan menjadi international standard Bibliographic Description for Monograph/ISBD-M. Dalam perkembangannya, ISBD-M ini dianggap kurang rinci dan kurang jelas lalu dibahas dalam pertemuan Internasional Federation of Library Association/IFLA, tahun 1972 dan lahirlah ISBD-M dan ISBD-M ISBD-S.
       Kebutuhan penyempurnaan katalogisasi semakin mendesak lalu timbul ide untuk merevisi AACR. Kemudian dibentuk kelompok kerja yang terdiri Michael Gorman (penyusun edisi ringkas AACR 1967 British Text) dan philip K.Escreet dan Geofery Hamilton (keduanya lalu bekerja untuk Joint Steering Committe for Revision of AACR1). Kemudian pada tahun 1978 terbitlah AACR2 sebagai hasil kerjasama antara American Library Association, Library Association, Library of congress, dan Canadian Library Association.

Minggu, 30 Agustus 2015

Buku elektronik-electronic book/e-book


                                                       


          Bentuk buku ini pada dasarnya adalah layar komputer   dilengkapi dengan kapasitas simpanan/storage dokumen yang amat besar. Bentuk komputer ini sebesar buku yang dapat dibawa kemana-mana. Buku ini dapat dihubungkan dengan soft book network melalui kabel telepon biasa. soft book network adalah semacam buku-buku elektronik yang menyediakan ribuan judul buku maupun jurnal. soft book ini dilengkapi MODEM dan tak perlu menggunakan komputer lagi. setelah tersambung, lalu dapat dipilih judul-judul buku maupun jurnal yang tersedia untuk diisikan kedalam buku elektronik tadi. Namun buku yang didownload itu harus dibeli yang harganya lebih murah dari harga buku biasa yang dicetak pada kertas. Salah satu keuntungannya ialah orang tidak perlu pergi ke toko buku bila ingin suatu buku. Kiranya cukup menunggu beberapa hari kalau mau pesan lewat pos. Buku jenis ini mampu memuat 100 ribu halaman  dan bila ada penambahan buku baru tidak menambah berat.
Hasil gambar untuk e-book

e-book (electronic book)

 

       Oleh karena itu buku ini mudah dan ringan untuk dibawa kemana-mana. Buku ini juga dapat dibaca halaman per halaman dengan cara menekan tombol-tombol yang melekat dipinggir halaman layar kaca. Disamping itu juga dapat diberi tanda halaman-halaman yang telah dibaca maupun menggarisbawahi bagian-bagian yang penting. Tulisan-tulisan dalam buku itu dapat dihapus dan diisi lagi. Huruf-huruf, angka-angka, maupun gambar-gambar pada buku itu dapat diperbesar dan diperkecil sesuai kebutuhan. Jenis buku ini memang praktis untuk siswa maupun mahasiswa, sebab mereka tak perlu membawa tas yang berisi bermacam-macam buku itu ke sekolah. dengan buku elektronik ini sudah dapat dicakup/rekam semua buku pelajaran (kecuali buku tulis) maupun catatan lain. Mirip dengan soft book ini ialah rocket elektrical book yang untuk cara mengisinya harus disambungkan ke toko buku elektronik lewat komputer. jenis buku ini pernah ditawarkan beberapa tahun oleh beberapa perusahaan seperti Bookmark Reader Ricoh namun nampaknya tidak mendapat respon dari masyarakat. Beberapa kekurangan jenis ini antara lain teknologi layarnya masih rendah sehingga teksnya tidak nyaman dibaca Disamping itu usia baterainyapun masih pendek. Kekurangan lain adalah sebagai buku elektronik ini masih memanfaatkan CD maupun disket untuk menyimpan datanya Masalah ini dapat diatasi pada buku elektronik model baru yakni dengan cara materinya dapat diperoleh dan didownload dari situs internet. Para peminat dapat saja membeli buku digital ini (misalnya di toko buku softbook) setelah melakukan transaksi maka konsumen tinggal mendownload judul-judul buku yang diinginkan lalu disimpan di alat bacanya/soft ware book reader.kemungkinan besar harga buku elektronik ini semakin murah mengingat adanya beberapa perusahaan yang berkeinginan untuk memproduksi buku tersebut. Revolusi buku tanpa kertas/paperless book ini mungkin akan mampu menjadi komplemen buku cetak dan tidak menggaantikannya. Sebab bagaimanapun juga buku cetak lebih nyaman, praktis, dan harga terjangkau oleh masyarakat.

Selasa, 18 Agustus 2015

Istilah Fumigasi Dalam Perpustakaan





Hasil gambar untuk Fumigasi

 
      Fumigasi (fumigation) adalah pengasapan bahan kertas/book material dengan uap atau gas beracun untuk membunuh jamur atau serangga yang tumbuh berkembang pada kertas itu. Fumigasi dapat dilaksanakan dalam kotak, lemari/box fumigasi, ruang fumigasi, ruang penyimpaman arsip, ruang koleksi, maupun ruang deposit.Bahan fumigasi disebut fummigant yang bisa berbentuk padat, cair atau gas. Bahan padat antara lain thymol crystal dan phospine. thymol crystal adalah bahan yang dapat mematikan jamur yang tumbuh pada permukaan kertas atau kulit buku. Fumigasi dengan bahan ini memerlukan kotak/box lengkap dengan pemanas lampu pijar watt. Bahan ini akan menguap karena pemanasan dan uap itu pada tekanan dan suhu kamar akan menyublim dan menempel pada kertas yang berfungsi sebagai pelindung terhadap serangan jamur dari luar. Bahan phospine sangat efektif untuk membunuh serangga atau binatang pengerat. Bahan ini dapat berbentuk tablet atau batangan. Bahan tablet atau pelet dengan merk phostoxin, gastxindan gas/Ex-B yang mengandung aluminiumphospide yang dapat bereaksi dengan uap air yang terdapat dalam udara membentuk gas phospine yang beracun. Bentuk batangan mengandung magnesium phospide yang juga dapat bereaksi dengan uap air untuk menghasilkan gas phospine. Fumigant cair terdiri dari formaldehide dan carbon tetra chloride dan carbon disulfide. Bahan formaldehide pada tekanan suhu kamar secara perlahan-lahan akan menguap menjadi gas. Bahan ini berguna untk mematikan jamur. Fumigasi dengan bahan ini dilakukan dalam ruang khusus fumigasi atau kotak/box. caranya ialah bahwa bahan ini ditaruh pada bejana yang ceper agar penguapannya lebih cepat, kemudian dimasukkan ke dalam box yang telah diisi buku yang akan difumigasi. Bahan ini hanya mematikan jamur dan tidak meninggalkan residu maupun uap setelah  selesai fumigasi. Penggunaan carbon tetra chloride dan carbon disulfide dapat dicampur dengan perbandingan 50% : 50%  atau dipisah sama sekali. Bahan ini juga berfungsi untuk mematikan serangga dan cara penggunaannya seperti pada penggunaan formaldehide.
      Bahan gas antara lain  methyl bromide yang memiliki titik didih yang rendah. Oleh karena itu begitu dikeluaran dari dalam tabung langsung menjadi gas. Gas ini lebih berat dari udara, maka dalam proses fumigasi hendaknya dimasukkan dari atap ruangan. Bahan ini berfungsi sebagai pembasmi serangga dan dapat membunuh jamur Aspergillus spp. dan penicllium spp. Gas ini tidak mudah terbakar  dan dapat mematikan api.








Senin, 29 September 2014

PROSEDUR STANDAR OPERASIONAL (SOP) PERPUSTAKAAN NFBS PEMELIHARAAN DAN PEMERIKSAAN BAHAN PERPUSTAKAAN (STOCK OPNAME)

A.    Tujuan
       Mengetahui keadaan koleksi perpustakaan apakah masih sesuai dengan catatan kepemilikan.


B.    Ruang Lingkup
      Mencocokkan buku di rak dengan daftar pengerakan (shelflist)


C.    Definisi
      Suatu tugas, pekerjaan, bagian, maupun seksi di perpustakaan yang berwenang dan bertugas untuk mengecek kesesuaian bahan pustaka dengan buku induk/database koleksi.


D.    Landasan Kebijakan/Pedoman
       Kebijakan pengembangan dan pemeliharaan koleksi NFBS


E.    Pelaksanaan/Prosedur Kerja
1.    Menetapkan kuota pemeriksaan stok di antara staf perpustakaan
2.    Mengembalikan koleksi perpustakaan yang selesai dipinjam ke rak
3.    Memeriksa dan merapihkan susuna koleksi di rak
4.    Memeriksa dan merapihkan shelflist
5.    Mencocokkan koleksi perpustakaan berdasarkan pada data yang ada pada shelflist
6.    Bila buku ada tapi nomor tidak ada, tambahkan nomor induk pada buku
7.    Tambahkan nomor induk pada kartu shelflist bila nomor induk di kartu shelflist tidak ada
8.    Bila shelflist ada tetapi buku tidak ada, beri tanda tanya pada shelflist
9.    Mencari keberadaan buku
10.    Menghapus tanda tanya (?) di shelflist bila bahan perpustakaan ditemukan dan rebahkan kembali kartu shelflist. Apabila buku tidak ditemukan kartunya dikeluarkan
11.    Mengedit pangkalan data di komputer berdasarkan kumpulan kartu shelflist yang dikeluarkan dari jajarannya
12.    Membuat daftar koleksi bahan perpustakaan yang hilang
13.    Membuat berita acara

F.         Sarana dan Dokumen Pendukung
Daftar pengerakan (shelflist) dan kardeks (komputer)

G Bagan